• BIANGLALA ILMU
  • PERPUSTAKAAN SMA NEGERI 3 KOTA SUKABUMI

Cahaya di Mata Ibu...

             Disuatu kampung yang terpencil di Jawa Barat, hiduplah seorang anak yang sangat nakal dan bisa dibilang berandalan bernama Juki. Dikampung itu ia tinggal bersama ibunya disebuah rumah gubuk yang sudah rapuh. Ibunya yang bernama Mak Ijah adalah seorang janda tua yang sangat rentan. Mak Ijah dikenal baik oleh warga setempat karena semangatnya bekerja untuk menghidupi dirinya dan Juki, anak semata wayangnya. Selain itu Mak Ijah juga sangat aktif dalam kegiatan keagamaan di kampung itu. Sangat berbeda dengan Juki yang kerjanya hanya membuat masalah, tawuran dan membangkang.

            Disetiap sholat dan do’anya, Mak Ijah selalu memohon kepada Allah swt (tuhannya) agar membukakan pintu hidayah dan ampunan bagi anaknya itu. Sampai akhirnya Allah mengabulkan seluruh permohonan Mak Ijah. Juki akhirnya menyesali semua perbuatannya dan berniat untuk bertaubat, namun gara-gara itu Mak Ijah harus mengorbankan sesuatu yang ada didalam dirinya.

            Suatu hari Juki sedang memarahi dan membentak ibunya, dia kesal karena ibunya tak juga memberinya uang.

“Kap, gua mau sekolah mana duitnya? Buruan udah siang ini teh !!!.” ucapnya dengan nada kasar.

            Mak Ijah tidak mengerti bahasa apa yang diucapkan anaknya itu. Maklum saja Mak Ijah adalah orang kampung yang tak tahu apa-apa. Mak Ijah pun menanyakan kepada Juki arti dari kata yang ia ucapkan tadi. Namun bukannya menjelaskan, Juki malah membentak ibunya dan mendesak ibunya untuk memberinya uang.

“Iya atuh bentar jang, kan ema teh harus kokoreh dulu.” Ucap Mak Ijah sambil mengeluarkan kantung yang ia selipkan disela-sela sarung kebat yang ia kenakan.

            Juki yang arogan dan tak sabaran itupun langsung merebut kantung uang milik Mak Ijahh dan mengambil seluruh isinya hingga tak menyisakan sepeserpun.

“Gua pergi dulu kap…eeuuh meuni banyak banget nih duit..” ucap Juki sambil melemparkan kantung uang itu entah kemana dan meninggalkan ibunya begitu saja.

            Mak Ijah hanya bisa terdiam sambil mengelus-elus dadanya yang sakit karena diperlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri.

            Disisi lain Juki bukannya pergi kesekolah, ia malah berkumpul dan berhura-hura dengan teman satu tongkrongannya disebuah warung.

            Juki dan teman satu tongkrongannya sedang merencanakan untuk ribut dan tawuran dengan anak tongkrongan lain. Temannya  terus memanasi Juki untuk meladeni ajakan Jarwo untuk tawuran.

“Lamun bos teu ngaladenan, berarti bos pecun cenah.” Ucap Beni memanasinya.

            Setelah menerima hasutan dari teman-temannya, Juki pun akhirnya termakan dan memutuskan untuk menerima tawaran tawuran dari Jarwo.

“Wah waedi supardinasi roberto karlos, wawanianan ngomong kitu. Geus lah urang ladenan we. Manehna ngajual, urang nu meuli” ucap Juki dengan amarah yang menggelora.

            Suatu hari disaat mereka sedang asyik menongkrong, Imas, teman sekelas Juki sekaligus tetangganya melihat mereka dan langsung menghampirinya.

”Juki!!! Kamu teh lagi ngapain disini?” ucap Imas saat mendapati Juki sedang menongkrong disaat seharusnya dia pergi ke sekolah.

            Juki sangat terkejut saat Imas menghampirinya, tapi ia sama sekali tak menggubris Imas.

            Imas terus berusaha untuk mengajak Juki agar ikut bersamanya ke sekolah, namun Juki malah membentaknya  dan mengusirnya dari sana. Setelah itu Juki malah kembali menyesap rokok yang ada ditangannya.

“Kamu teh ya, meuni ga mikirin indung kamu! Kumaha coba kalau kamu kanyahoan guru,terus indung kamu dititah kasakola? Terus kumaha mun kamu dikaluarkeun? Kamu teh gatau apa kumaha perjuangan indung kamu buat nyekolahin kamu?” ucap Imas karena kesal melihat kelakuan Juki.

            Ancaman Imas berhasil membuat Juki luluh dan bersedia mengikutu keinginan Imas, walaupun sebenarnya ia sangat kesal dan membenci ancaman itu. Sambil menahan kesal dan amarahnya, Juki pun pergi ke sekolah bersama Imas. Seluruh temannya pun mengikutinya dari belakang.

            Suatu sore disebuah warung ditepi lapang, si Jarwo dan teman-teman satu tongkrongannya sedang menongkrong sambil menunggu kehadiran Juki dan teman-temannya. Jarwo sangat kesal karena setelah menunggu dari pagi, Juki tak datang juga. Padahal mereka telah sepakat untuk bertemu ditempat itu.

“Sopo, kumaha ieu teh neupi jam sakieu si Komar can datang wae?” tanya Jarwo kepada anak buahnya.

“Sopo teu terang bos” jawab Sopo sambil melakukan gerakan bodoh seperti orang linglung.

            Jarwo semakin kesal setelah melihat tingkah Jarwo, ia pun memutuskan untuk pergi mencari Juki dan teman-temannya. Namun, pada saat Jarwo bari saja akan membangkitkan tubuhnya, Juki dan teman-temannya pun datang menghampiri Jarwo dengan nafas yang terengah-engah.

“Alus, janji rek datang isuk jam sakieu karak jol.. emprak barudak!!” ucap Jarwo saking kesalnya.

            Juki berusaha menjelaskan alasan keterlambatannya kepada Jarwo, namun Jarwo tak ingin mendengar alasan apapun.

“Alaah tong loba alesan, nggeus ayeuna mah urang mulai we.” Ucap Jarwo sambil mengisyaratkan anak buahnya untuk mengambil posisi.

            Pasukan Juki dan Jarwo telah berada diposisinya masing-masing. Mereka sudah siap dengan jurusnya masing-masing.

“Arek jurus seureud ‘engang?” ucap Jarwo

“Atawa arek jurus cakar maung?” sahut Juki

            Mereka berdua mengeluarkan pose jurus andalannya itu. Saat mereka sudah siap dengan jurusnya, tiba-tiba Mak Ijah dan Imas melintas disana, mereka baru saja selesai mengikuti pengajian di masjid. Mak Ijah sangat terkejut saat melihat Juki seperti itu, ia pun segera menghampiri Juki dan berusaha menghentikan kegiatan Juki. Namun Juki malah membentak dan mengusir Mak Ijah dari tempat itu.

“Alaah kunaon sih make datang sagala. Nggeuslah kap, tugas lo itu cicing diimah, kukumbah, masak, lainna didieu!.”

            Imas sangat kesal mendengar dan melihat perlakuan Juki terhadap Mak Ijah, ia pun langsung menasihati Juki.

“Ai kamu Juki, kunaon sih kamu teh teu pernah ngahargaan Ma Ijah? Ma ijah teh indung kamu, anu geus ngaborojolkeun kamu, ngagedekeun kamu. Teu karasa kitu kanyaaah jeung pangorbanan Ma ijah jang kamu? Tobat atuh kamu teh!!.”

            Juki sama sekali tak menghiraukan Imas, ia malah mengusir Imas dan meminta Imas untuk membawa Mak Ijah untuk pergi dari tempat itu. Imas sudah berusaha untuk membawa Mak Ijah pergi, tapi Mak Ijah tetap keras kepala untuk tetap berada disana jika Juki tak pulang bersamanya.

“Balik mah balik we, da Juki mah moal pernah balik deui ka imah reod eta. Juki bakal nunjukkeun lamun Juki mampu hirup tanpa nyokap jiga emak.” Bentak Juki sembari mendorong Mak Ijah hingga Mak Ijah tersungkur ke tanah.

            Mak Ijah tetap bersikeras untuk mengajak Juki pulang walaupun Juki sangat kasar kepadanya. Namun Imas sangat tak terima, ia pun segera memaksa dan membawa pergi Mak Ijah dari sana. Imas benar-benar tak menyangka jika Juki bisa berbuat seperti itu kepada Mak Ijah disaat Mak Ijah rela berjuang dan Mempertaruhkan segalanya demi Juki.

Setiap hari Mak Ijah tak henti berdo’a sembari menangis memikirkan anaknya, Juki. Hingga akhirnya Mak Ijah jatuh sakit. Mak Ijah terlalu memikirkan Juki dan selalu menyalahkan dirinya sendiri, karena sejak kejadian itu, Juki tak pernah lagi pulang dan menemui Mak Ijah. Padahal Mak Ijah sudah tua dan sering sakit-sakitan. Untung saja ada Imas yang selalu menjaga Mak Ijah disaat Juki tak ada.

Suatu hari saat Imas sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, tiba-tiba saja ia terkejut karena mendengar suara gelas yang pecah. Ia pun yakin jika itu bersumber dari dapur. Ia pun langsung berlari ke dapur untuk memastikan sesuatu yang terjadi disana. Betapa khawatirnya Imas ketika melihat Mak Ijah disana. Setelah ia mendekat dan memastikan, ternyata itu semua terjadi karena Mak Ijah tak sengaja menyenggol gelas ditepi meja saat ia sedang menyiapkan bekal makan untuk Juki. Mak Ijah tetap saja mementingkan Juki disaat kondisinya sendiri sangat lemah, ia memohon kepada Imas untuk memberikan bekal itu kepada Juki karena ia khawatir jika Juki belum makan. Imas pun hanya bisa mengangguk dan menyanggupi permintaan Mak Ijah itu.

Imas pergi ke sekolah. Sesampainya ia disekolah, ia langsung mencari keberadaan Juki untuk memberikan bekal makan dari Mak Ijah dan meminta Juki untuk pulang ke rumah serta menemui Mak Ijah. Tapi sampai bel masuk berbunyi, Juki masih saja belum menampakkan batang hidungnya.

Sepulang sekolah, Imas langsung pergi menuju tempat tongkrongan Juki dan teman-temannya. Ia berharap jika ia bisa menemukan Juki disana. Sesampainya ia disana, benar saja ia menemukan keberadaan Juki. Seperti biasa, pasukan Juki sedang tawuran dengan pasukan Jarwo.

Mereka sedang tawuran disana. Awalnya pasukan Juki yang menang, tapi Jarwo tak terima keadaan itu dan langsung menyiram Juki dengan air keras. Cairan itu berhasil mendarat di wajah Juki, terutama di bagian matanya. Setelah mengetahui halitu Jarwo pun langsung pergi bersama pasukannya.

 Juki terus berguling-guling diatas tanah sambil merintih kesakitan. Imas yang saat itu berada disana pun benar-benar terkejut dan langsung menghampiri Juki.

“Juki... kunaon atuh kamu teh? Kalian teh nya, kalakah cicing wae. Buruan telepon ambulan!! Juki, tahan Juki!! Sakedap deui ambulana datang.” Ucap Imas cemas melihat kondisi Juki.

            Imas berhasil membawa Juki ke rumah sakit. Ia sangat khawatir saat perawat membawa Juki memasuki ruang perawatan intensif. Imas tak henti berdo’a agar Tuhan memberikan mukjizat kepada Juki.

            Saat Imas sedang sedang gelisah didepan ruang perawatan intensif, Mak Ijah pun menghampirinya dengan nafas yang tersengal-sengal disertai airmata yang terus membasahi pipinya. Mak Ijah menanyakan mengenai kondisi Juki, namun Imas hanya bisa mengisyaratkan jika dokter masih memeriksanya diruangan.

            Tak lama setelah itu, dokter yang menangani Juki pun keluar dari ruangan itu. Mak Ijah langsung menghampiri dokter itu dan bertanya mengenai kondisi anaknya. Betapa terkejut dan terpukulnya Mak Ijah saat mengetahui jika Juki mengalami kebutaan akibat tersiram air keras, dan satu-satunya cara agar Juki dapat kembali melihat adalah operasi mata. Sangat sulit untuk mencari seorang pendonor mata untuk Juki karena golongan darah seperti Juki sangat jarang sekali ditemukan.

            Setelah mengetahui hal itu, Mak Ijah langsung meminta ijin kepada dokter untuk menemui anaknya. Sambil berusaha tetap tegar, Mak Ijah memegang tangan anaknya sembari berusaha untuk menenangkan anaknya yang sedari tadi terus mengamuk.

“Juki.. sing sabar jang, emak aya didieu. Aya emak anu bakal terus disisieun Juki, emak nyaah ka Juki” ucap Mak Ijah sambi memeluk Juki.

“alah.. tong sok bertingkang seolah-olah emak nyaah ka Juki! Lamun emak beneran nyaah ka Juki, emak pasti bakalan ngalakukeun sagala cara ambeh Juki bisa ningali deui” ucap Juki kasar seraya mendorong Mak Ijah hingga membuat Mak Ijah tersungkur.

“emak janji, emak bakal ngalakukeun sagala cara ambeh kamu bisa ningali deui” ucap Mak Ijah sambil pergi meninggalkan Juki.

            Mak Ijah menemui Imas yang menunggu diluar ruangan dan meminta Imas untuk menemaninya ke ruangan dokter yang menangani Juki. Imas hanya bisa menuruti keinginan Mak Ijah.

            Seminggu telah berlalu, kini Juki telah bisa kembali melihat lagi. Baru saja tadi pagi dokter membuka perban dimatanya. Imas sangat bahagia saat mengetahui itu, tapi ada suatu hal yang membuatnya bersedih.

            Imas membawa Juki pulang ke rumah. Sesampainya mereka dirumah Mak Ijah, Juki pun langsung berteriak memanggil ibunya.

“Kap... lu dimana sih? Lu meuni embung nyambut anakna datang. Bangun teu resep Juki bisa ningali jeung balik kaimah teh.” teriak Juki.

“Ica, bisa teu sih kamu teh tong kitu?. Di dunya ieu teh teu aya kolot nu teu reuseup ningali budakna bahagia.” ucap Imas sambil berusaha menahan emosinya

“Alah, emang bener pan?. Buktina, ayeuna manehna euweuh.” ucap Juki

“Asal kamu nyaho Juki, nyawa Ma Ijah teu katulungan basa ngajalankeun operasi. Ma Ijah ngarelakeun mata jeung nyawana ajang kamu. Emangna kamu pikir saha anu rela mikeun mata na ka kamu, ari lain Ma Ijah hah? Kamu teh kuduna sadar Juki. (Nyodorkeun surat) Oh enya, ieu aya surat ti Ma Ijah.” Jelas Imas sembari menyampaikan surat yang Mak Ijah titipkan padanya sebelum Mak Ijah melakukan operasi

Juki langsung mengambil surat yang Imas sampaikan padanya. Iapun langsung membuka dan membaca surat itu.

“Teu mungkin... kamu teh pasti wadul pan? Kamu teh heureuy pan? Arrrgh...” ucap Juki tak percaya.

            Setelah membaca surat itu, Juki benar-benar merasa menyesal atas apa yang pernah ia lakukan kepada ibunya. Ia tak henti menangis dan berteriak, menyesal atas segalanya.

“Ema... hampura Juki... Juki teu bisa ngabagjakeun emak... salami ieu Juki geus doraka ka emak, tapi emak tetep sabar ka Juki... emak....” teriak Juki

“Enggeus Juki, istighfar... arek kumaha kamu ngamuk oge, Ma Ijah moal mungkin balik deui. Nu penting ayeuna mah kamu kudu tobat, terus doakeun Ma Ijah supaya asup sorga. Kamu kudu tawekkal !!!.”

            Setelah kejadian itu Juki pun bertaubat. Sekarang ia menjadi anak yang baik, tak pernah nongkrong lagi. Justru sekarang ia berhasil mengajak seluruh teman-temannya untuk taubat bersama.

 

 Oleh: Riska

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Crazy But Not Stupid

Karya : Riska Putri Arisandi Dizaman sekarang ini manusia hanya melihat seseorang hanya dari penampilannya saja tanpa memastikan kebenarannya. Itulah yang kusimpulkan setelah mengamati

29/10/2019 15:45 WIB - Administrator
Kue coklat untuk Liana

Pagi hari yang sangat cerah, secerah dari biasanya. Di sebuah rumah yang sangat sederhana, hiduplah sebuah keluarga yang menggantungkan hidupnya dengan berkebun di ladang orang.  &

17/09/2019 14:29 WIB - Administrator